🐫 Unsur Intrinsik Dalam Hikayat Indera Bangsawan
UNSURUNSUR INTRINSIK Unsur unsur intrinsik (tema, alur, tokoh, latar dan amanat) pada hikayat: 1. Tema pada" Hikayat Indera Bangsangwan" adalah kehebatana saudara kembar (Syah Peri dan Indera Bangsawan) dalam menghadapi musuh sebelum mencapai kebahagiaan. 2. Latar
UnsurIntrinsik Hikayat; Dibawah ini terbagi beberapa unsur intrinsik hikayat, diuraikan sebagai berikut. Tema Hikayat; Tema merupakan unsur yang paling utama untuk menciptakan sebuah hikayat, berupa suatu ide, gagasan pokok yang akan menjadi sumber acuan dalam cerita. Indra Bangsawan. Pada zaman dahulu ada dua putra raja, mereka kembar
temadari "Hikayat Indera Bangsawan" adalah akibat dari suatu perbuatan. Jadi, jawaban yang tepat adalah C. Pembahasan Tema merupakan gagasan utama yang disampaikan dalam cerita. "Hikayat Indera Bangsawan" berkisah tentang perbuatan baik dan buruk yang pasti akan mendapat balasan setimpal.
Hikayatmulai berkembang pada masa Melayu klasik, sehingga banyak kata yang digunakan dalam hikayat mengandung bahasa Melayu klasik yang terkadang susah untuk dimengerti. Contents hide. 1 Ciri-Ciri Hikayat. 2 Unsur-Unsur Hikayat. 3 Jenis-Jenis Hikayat. 3.1 Jenis Hikayat berdasarkan Isinya.
Berikuturaian analisis unsur intrinsik hikayat indera bangsawan. 1. Tema Hikayat Indera Bangsawan Tema hikayat indera bangsawan adalah usaha kerja keras dan perjuangan dua putra raja dalam membuktikan kepantasannya meneruskan takhta raja. 2. Tokoh Hikayat Indera Bangsawan
UnsurIntrinsik Hikayat Indera Bangsawan Pada suatu hari Raja Indera Bungsu dari kerajaan Negeri Kobat Syahrial menginginkan anak. Beliau lantas mengutus orang - orang yang diperintah oleh patihnya untuk membaca do'a Qunut dan bersedekah kepada fakir miskin.
INDERA BANGSAWAN: PATUH, PANTANG MENYERAH, RINGAN TANGAN, PEMBERANI - MUALIN SUFIAN: RINGAN TANGAN - RAKSASA GARUDA: JAHAT - PUTRI RATNA SARI: RINGAN TANGAN - PUTRI KEMALA SARI: PATUH - RAKSASA PEREMPUAN: RINGAN TANGAN - RAKSASA BURAKSA: JAHAT - RAJA KABIR: GAMPANG MENYERAH 4. LATAR TEMPAT: NEGERI KOBAT SYARIAL, HUTAN, TAMAN, DAN GUA 5.
UnsurUnsur Hikayat Unsur Intrinsik adalah Unsur yang 1. membangun hikayat dari dalam. 1. Tema 2. Alur cerita 3. Tokoh atau penokohan 4. Latar 5. Amanat 6. Sudut pandang 8. C. Unsur-Unsur Hikayat Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.
A Karakteristik Hikayat Indera Bangsawan 1. Anonim, yaitu tidak dikenal nama pengarangnya. 2. Istana sentris, yaitu mengisahkan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana / kerajaan. 3. Bersifat statis, artinya tidak mengalami perubahan atau perkembangan. 4. Bersifat komunal, artinya menjadi milik masyarakat. 5.
. Kamu suka membaca cerita hikayat melayu? Sudah pernah membaca cerita hikayat Indera Bangsawan yang memiliki kisah menarik? Jika belum, langsung saja baca artikel ini! Hikayat adalah karya sastra lama Melayu yang bersifat rekaan, keagamaan, atau historis. Ada banyak cerita hikayat yang memiliki kisah menarik, salah satunya adalah Indera hikayat ini mengisahkan tentang seorang raja yang memiliki dua putra mahkota. Karena keduanya sangat baik dan bijak, sang raja bingung hendak menyerahkan tahtanya pada dengan kelanjutan kisahnya? Tak perlu berlama-lama lagi, langsung saja simak cerita hikayat Indera Bangsawan di bawah ini. Tak hanya kisahnya saja, unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya juga telah kami Hikayat Indera Bangsawan Alkisah, pada zaman dahulu, ada sebuah Kerajaan Kobat Syahril yang megah dan mewah. Raja yang memimpin kerajaan itu bernama Raja Indra Bungsu. Ia adalah seorang raja yang sangat bijaksana dan adil dalam bertindak. Rakyat di Negeri Kobat Syahril hidup dengan aman, bahagia, dan sentosa, karena sang raja selalu memperhatikan mereka. Sang raja memiliki istri yang juga baik hati dan parasnya sangatlah cantik. Kecantikannya sangat termahsyur hingga ke mancanegara. Wanita itu bernama Putri Siti Kendi. Tak hanya baik hati, ia juga kerap mengatur kegiatan kemasyarakatan. Maka dari itu, ia sangat dengan rakyat. Para rakyat pun sangat menyukainya. Meski telah hidup makmur dan sejahtera, kebahagiaan Raja Indra Bungsu dan istrinya belum lengkap. Pasalnya, mereka tak kunjung memiliki momongan. “Wahai Adinda, sudah lama kita berumah tangga, Kanda pun merasa bahagia. Namun, ada satu hal yang membuat Kanda merasa cemas. Kanda sangat ingin memiliki putra mahkota sebagai ahli waris kerajaan ini,” ucap Raja Indra Bungsu. “Begitu pun dengan adinda, Kanda. Sebenarnya, Adinda sangat ingin memiliki anak. Sebenarnya Dinda juga telah meminta tolong pada tabib, tapi Dinda tak kunjung mengandung,” Setelah berpikir cukup lama, sang raja akhirnya memutuskan untuk bertanya pada penasihat kerajaan yang terkenal pandai dalam ilmu agama. Penasihat kerajaan itu meminta raja dan permaisuri memperbanyak doa dan sedekah pada fakir miskin. Selama beberapa waktu, raja, permaisuri, dan seluruh rakyat Negeri Kobat Syahril berdoa. Mereka memohon petunjuk pada Tuhan yang Maha Esa agar permaisuri segera memiliki momongan. Baca juga Kisah Hikayat Si Miskin dan Ulasan Lengkapnya yang Mengandung Nilai-Nilai Bijak Kehidupan Permaisuri Mengandung Putra Mahkota Pada akhirnya, sang permaisuri berhasil hamil. Betapa bahagianya Raja Indra Bungsu dan seluruh rakyat Kobat Syahril. Mereka tak berhenti mendoakan agar kandungan Permaisuri Siti Kendi senantiasa sehat. Setelah genap sembilan bulan, Siti Kendi ternyata melahirkan dua orang anak kembar laki-laki yang sangat tampan. Raja Indra bungsu menamai mereka Pangeran Syah Peri dan Pangeran Indera Bangsawan. Meski kembar, Pangeran Syah Peri lahir terlebih dahulu. Sehingga, ia merupakan kakak dari Pangeran Indera Bangsawan. Mereka tumbuh dengan sangat baik. Sang raja pun memerintahkan guru terbaik untuk mengajari mereka ilmu perang, ilmu pemerintahan, ilmu bermain senjata, dan beragam pendidikan lainnya. Karena keduanya sama-sama hebat dan tangguh, sang raja pun bingung menentukan siapa yang kelak menjadi penggantinya. Setelah berpikir lama, ia akhirnya punya solusi atas keresahan hatinya. Pada suatu malam, Raja Indra Bungsu bercerita pada kedua anak tampannya. “Anakku, semalam ayahanda bermimpi. Dalam mimpi itu, ayah sedang berkuda. Tiba-tiba, ada seorang pemuda yang tampan. Ia membawa buluh perindu. Bunyi alat tiup dari bambu itu membuat hati ayah terasa tentram. Ayah sangat ingin memiliki buluh perindu itu. Tapi, ia tak memberikannya pada ayah. Ia malah berkata kalau siapa pun yang bisa menemukan buluh perindu ini, maka ialah yang akan menjadi raja,” ucap Indra Bungsu. “Oleh karena itu, bisakah kalian mencarikan buluh perindu untuk ayah? Yang berhasil menemukannya, akan ayah pilih sebagai pengganti ayah,” lanjut sang raja. Setelah mendengar cerita sang ayah, kedua putra mahkota itu saling berpandangan. Mereka saling mendekat dan terdengar membicarakan sesuatu. Setelah berunding secara singkat, Pangeran Indera Bangsawan berkata, “Baiklah Ayah, kami berdua kan mencoba mencari buluh perindu itu.” Perjalanan Mencari Buluh Perindu Setelah meminta doa restu kedua orang tua, pergila kedua putra mahkota mencari buluh perindu. Bersama-sama mereka melewati hutan dan lembah. Apa pun yang terjadi, mereka bisa melaluinya bersama-sama. Hingga suatu hari, mereka melewati sebuah gunung yang sangat terjal. Banyak bebatuan besar yang sangat sulit untuk mereka lewati. Namun, mereka tak pernah menyerah. Mereka selalu berupaya agar dapat melewati segala rintangan demi mendapatkan buluh perindu. Sesampainya di sebuah puncak gunung, tiba-tiba datang angin topan yang sangat besar. Mereka saling berpegangan agar tak terpisah. Musibah terus-terusan datang. Kali ini, kabut yang sangat tebal menghalangi pandangan kedua pangeran. Mereka saling berpegangan tangan. Tapi, pandangan mereka semakin kabur. Ditambah lagi, angin topan yang berhembus semakin kencang. Malangnya, hal itu membuat mereka terpisah. Pangeran Syah Peri terhempas di dekat pohon hingga ia tak sadarkan diri. Sedangkan Pangeran Indera Bangsawan terdampar di dekat sebuah gua. Pangeran Syah Peri Setelah sadar, Pangeran Syah Peri kebingungan. Ia melihat semua yang ada di sekitarnya telah porak poranda. Ia bergegas bangun dan mencari adiknya. Tapi, ia tak kunjung menemukannya. Ia lalu melanjutkan perjalanan ke arah utara untuk menemukan adiknya dan buluh perindu. Setelah sekian lama berjalan, tibalah ia di suatu negeri yang sangat luas. Negeri itu sangat indah, bermacam-macam pohon dan bunga tumbuh di sana. Ia lalu melihat sebuah rumah dan memutuskan untuk mengunjunginya. Namun, rumah itu tampak sepi. Pangeran Syah Peri lalu mengintip ke setiap sudut jendela itu. Lalu, ia melihat seorang perempuan yang tampak terikat tali. Ia lalu mendobrak pintu rumah dan menyelamatkan perempuan itu. Dengan tubuhnya yang terkulai lemas, wanita itu berterima kasih pada Syah Peri. “Terima kasih, Tuan, karena telah menyelamatkanku.” ucap gadis itu. “Siapa yang tega mengikatmu dengan tali? Dan, siapakah namamu?” tanya Pangeran Syah Peri. Wanita itu bernama Dewi Ratna Sari. Ia berasal dari Kerajaan Asikin. Negeri tersebut telah hancur karena ulah raksasa. Sosok berbadan besar itulah yang mengikatnya dengan tali. Lalu, Pangerah Syah Peri berkata bila ia akan membunuh raksasa itu. Benar saja, ketika sang raksasa datag, Pangeran Syah Peri langsung menghadangnya. Dengan senjata panah, pangeran itu berhasil membunuh raksasa. Dewi Ratna Sari sangat berterima kasih pada pangeran. Tak lama kemudian, mereka saling suka dan memutuskan untuk menikah. Putri Dewi Ratna Sari lalu mengikut pangeran mencari buluh perindu dan adiknya. Baca juga Legenda Batu Belah Batu Bertangkup dari Aceh yang Penuh Pesan Moral Beserta Ulasan Menariknya Pangeran Indera Bangsawan Di sisi lain, Pangeran Indera Bangsawan juga selamat. Setelah badai topan itu, ia terdampar di balik batu. Ia juga mencari kakaknya, tapi tak kunjung bisa bertemu. Akhirnya, ia berjalan seorang diri ke arah barat. Ia lalu melihat sebuah rumah kecil dan menghampirinya. Sesampainya di depan pintu, ia bertemu dengan seorang nenek. “Apa tujuanmu datang kemari, Anak muda? Siapa namamu?” tanya nenek itu. “Namaku Indera Bangsawan, Nek. Aku bisa sampai di sini karena tersesat saat mencari adik dan buluh perindu,” ungkap pangeran itu. “Baiklah, Cucuku. Kamu sebenarnya telah tiba di Negeri Lorong Antah. Lantas, kenapa kamu mencari buluh perindu?” tanya nenek itu. Lalu, Pangeran Indera Bangsawan menceritakan tujuannya mencari buluh perindu. Ia juga mengatakan bahwa dalam perjalanan ada badai yang memisahkan dirinya dengan sang kakak. Mendengar cerita itu, sang nenek merasa iba. “Sebenarnya, aku adalah satu-satunya orang yang memiliki buluh perindu, Nak! Namun, aku tak bisa menyerahkannya begitu saja padamu,” ucap nenek itu. “Apakah ada syarat yang harus aku penuhi dulu, Nek? Aku sangat ingin membawa pulang buluh perindu itu,” jawab sang pangeran tampan. “Aku akan menyerahkannya bila kau bisa mengalahkan raksasa yang ada di negeri Antah Berantah, Nak. Jika berhasil menyelamatkan rakyat di sana, aku akan memberikan buluh perindu ini,” jawab sang nenek. Sang nenek menceritakan bahwa negeri itu dipimpin oleh Raja Kabir. Karena raksasa terus mengganggu, Raja Kabir sampai membuat sayembara. Siapa pun yang berhasil mengalahkan raksasa, maka ia akan menjadi suami putrinya, Dewi Kemala Sari. Menyelamatkan Negeri Antah Berantah Pangeran Indera Bangsawan menyetujui perintah sang nenek. Saat hendak berangkat ke Antah Berantah, sang nenek membekalinya seekor kuda yang sangat kuat. Ia lalu berpesan, “Nak, kuda ini akan membantumu dalam perjalanan. Untuk mengalahkan raksasa, gunakanlah panah milikmu.” “Baik, Nek. Doakan aku agar bisa mengalahkan raksasa itu,” jawab pangeran tampan. Kemudian, Pangeran Indera Bangsawan memulai perjalanannya menuju Negeri Antah Berantah sendirian. Sesampainya di negeri itu, para penjaga menghadangnya. Ia lalu mengatakan bahwa dirinya hendak membantu melawan sang raksasa. Tak berselang lama, datanglah raksasa menyerang Antah Berantah. Para pasukan Kerajaan Antah Berantah dibantu oleh pasukan dari Anak Raja Sembilan pun beraksi. Namun, raksasa itu sangat kuat. Beberapa pengawal mulai jatuh tersungkur. Dengan ilmu perang yang ia punya, Indera Bangsawan langsung menyerang raksasa dengan panah-panahnya. Ia sangat gagah dan tangguh. Setelah berulang kali membusurkan panah, akhirnya raksasa itu berhasil ia bunuh. Para pasukan perang pun bersorak sorai. Mereka sangat berbahagia. Mengetahui hal tersebut, Raja Kabir pun langsung menemui Pangeran Indera Bangsawan. “Siapakah gerangan dirimu, wahai Pemuda? Terampil sekali kau dalam berperang. Aku berterimakasih karena kau telah menyelamatkan negeriku ini,” ucap sang raja. “Nama hamba adalah Indera Bangsawan, Tuan. Hamba berasal dari Negeri Kobat Syaril,” jawab pangeran. “Kamu sangat pandai dalam berperang. Lantas, apa yang membuatmu jauh-jauh datang kemari, Nak? tanya sang raja. “Ceritanya sangat panjang, Tuan. Hamba akan menceritakannya di lain kesempatan. Namun, hamba kemari memang untuk menyelamatkan Negeri Antah Berantah,” jawab pangeran. Sesuai sayembara, Raja Kabir pun lalu menikahkan Dewi Kemala Sari dengan Indera Bangsawan. Pesta pernikahan itu dilangsungkan secara mewah selama tujuh hari tujuh malam. Kembali Ke Kobat Sumber Badan Bahasa Kemdikbud Pada suatu malam, Pangeran Indera Bangsawan mengatakan pada sang istri kalau ia hendak menemui nenek-nenek di Negeri Lorong Antah. Ia ingin mengambil buluh perindu dan hendak menyerahkannya pada sang ayah. “Adinda, kanda merindukan kedua orang tua dan kakak kanda. Esok, kanda berencana ke rumah seorang nenek untuk mengambil buluh perindu. Lalu, kanda kan kembali ke Negeri Kobat Syahril. Maukah Adinda ikut kanda?” ucap pangeran. “Tentu saja, Kanda. Adinda siap mengabdi pada kakanda,” ucap Dewi Kemala Sari. Setelah itu, mereka lalu memohon izin pada Raja Kabir. Raja yang bijak itu memahami perasaan menantunya. Ia lalu mengizinkan Pangeran Indera Bangsawan dan putrinya kembali ke Negeri Korbat Syahril. Saat hendak kembali ke negeri asal, Pangeran Indera Bangsawan dan istrinya tak sendiri. Mereka dikawal oleh banyak pasukan dari Negeri Antah Berantah. Sebelum menuju ke Kobat Syahril, mereka mendatangi Lorong Antah untuk mengambil buluh perindu. Nenek yang memiliki buluh itu pun dengan suka rela menyerahkannya pada Pangeran Indera Bangsawan. “Kau telah memenuhi janjimu, Nak. Sekarang buluh perindu ini akan menjadi milikmu,” ucap sang nenek. Setelah mengambil buluh perindu, Indera Bangsawan, istrinya, dan para pasukan pun melanjutkan perjalanan. Setibanya di sana, para rakyat langsung menyambut pangeran dengan suka cita. Begitu pula dengan Raja Indra Bungsu dan Permasuiri Siti Kendi. Mereka sangat bahagia karena anaknya telah kembali. Pada saat yang bersamaan, Pangeran Syah Peri dan istrinya juga kembali ke istana. Saudara kembar ini sontak langsung berpelukan. Mereka tak menyangka bisa bertemu lagi dengan istri masing-masing. Pada saat itu pula, Indera Bangsawan menyerahkan buluh perindu. Maka, raja mengumumkan bahwa Indera Bangsawan adalah penerusnya. Mengetahui adiknya berhasil mendapatkan buluh perindu, Pangeran Syah Peri merasa bangga. Baca juga Kisah Legenda Pulau Kemaro di Palembang tentang Cinta dan Ketelitian Beserta Ulasan Menariknya Unsur Intrinsik Cerita Hikayat Indera Bangsawan Cerita hikayat Indera Bangsawan di atas sangat seru, kan? Nah, setelah membaca ceritanya, kini saatnya kamu mengulik informasi tentang kisah ini. Berikut ulasannya; 1. Tema Tema atau isi pokok cerita hikayat Indera Bangsawan adalah tentang perjuangan meraih keinginan. Para tokoh utama berusaha mencari buluh perindu. Dalam perjalanan mencarinya, banyak sekali cobaan yang harus mereka lalui. 2. Tokoh dan Perwatakan Sumber Badan Bahasa Kemdikbud Tokoh utama dalam cerita hikayat Indera Bangsawan adalah Pangeran Indera Bangsawan dan Pangeran Syah Peri. Keduanya memiliki sifat yang sama. Sama-sama patuh kepada orang tua, tangguh, dan pemberani. Tokoh lain yang turut mewarnai cerita hikayat Indera Bangsawan adalah Raja Indra Bungsu, Permaisuri Siti Kendi, Raja Kabir, Dewi Ratna Sari, Dewi Kemala Sari, dan nenek. Mereka semua merupakan tokoh protagonis. Sementara tokoh antagonis dalam kisah ini adalah raksasa. 3. Latar Cerita hikayat Indera Bangsawan menggunakan beberapa latar tempat. Sebut saja Kerajaan Kobat Syahril, hutan, lembah, gunung, Negeri Lorong Antah, Negeri Antah Berantah, dan Negeri Asikin. 4. Alur Cerita Hikayat Indera Bangsawan Cerita hikayat ini memiliki alur maju. Kisah berawal dari rasa bingung Raja Kabir menentukan penerusnya. Ia lalu meminta kedua putra mahkota untuk mencari buluh perindu. Pangeran Syah Peri dan adiknya terpisah saat melakukan perjalanan mencari buluh perindu. Pada akhirnya, Pangeran Indera Bangsawan yang dapat menemukan buluh perindu. 5. Pesan Moral Kira-kira, apakah amanat yang terkandung dalam cerita hikayat Indera Bangsawan? Nah, dari kisah ini, pelajaran yang bisa kamu petik adalah jangan mudah menyerah dalam meraih keinginanmu. Pangeran Indera Bangsawan terus berjuang melawan segala rintangan demi mendapatkan buluh perindu yang kelak akan ia serahkan pada sang ayah. Kegigihannya itulah yang membuatnya berhasil menemukan buluh perindu. Tak hanya unsur intrinsiknya, jangan lupakan juga unsur ekstrinsik yang membangun cerita hikayat Indera Bangsawan ini. Unsur ekstrinsik biasanya berhubungan dengan latar belakang masyarakat, penulis, dan nilai-nilai yang ada dalam kisahnya. Baca juga Legenda Asal Mula Desa Trunyan dan Ulasan Menariknya, Alasan di Balik Cara Pemakaman yang Unik Fakta Menarik Penasaran dengan fakta menarik dari cerita hikayat Indera Bangsawan? Berikut ulasan singkatnya; 1. Ada Film yang Mengadaptasi Kisah Ini Sumber Wikimedia Commons Pada tahun 1961, cerita hikayat Indera Bangsawan diangkat menjadi sebuah film berjudul sama. Film asal Malaysia tersebut disutradarai oleh Dhires Ghosh dan diperankan oleh beberapa artis melayu, salah satunya adalah Jins Shamsudin. Baca juga Kisah Asal Mula Nagari Minangkabau dan Ulasannya, Bukti Kalau Kekerasaan Bukanlah Segalanya Sudah Puas dengan Cerita Hikayat Indera Bangsawan di Atas? Demikianlah artikel yang membahas tentang cerita hikayat Indera Bangsawan beserta unsur intrinsik dan fakta menariknya. Kamu sudah cukup puas dengan kisahnya, bukan? Bila penasaran dengan kisah lainnya, langsung saja baca kanal Ruang Pena pada situs PosKata. Ada cerita hikayat Bayan Budiman, Legenda Si Tanduk Panjang, Kisah Dara Muning, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
Penulisan artikel analisis unsur intrinsik hikayat indera bangsawan dan unsur ekstrinsik hikayat indera bangsawan terdiri dari tiga bahasan. Bahasan pertama menjelaskan rangkaian cerita hikayat indera bangsawan. Pembahasan kedua berisi uraian unsur intrinsik hikayat indera bangsawan. Bahasan ketiga berisi uraian analisis unsur ekstrinsik hikayat indera bangsawan. HIKAYAT INDERA BANGSAWAN Pada suatu hari Raja Indera Bungsu dari kerajaan Negeri Kobat Syahrial menginginkan anak. Beliau lantas mengutus orang - orang yang diperintah oleh patihnya untuk membaca do'a Qunut dan bersedekah kepada fakir miskin. Tak lama kemudian istrinya, Puteri Sitti Kendi hamil dan melahirkan putra kembar laki- laki. Putra yang sulung lahir dengan sebuah anak panah dan diberi nama Syah Peri. Putra yang bungsu lahir dengan sebilah pedang dan diberi nama Indera Bangsawan. Sejak kecil kedua anak baginda itu dididik dengan baik. Mereka tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik. Saat usia mereka telah mencapai tujuh tahun, Raja Indera Bungsu memerintahkan kedua putranya untuk belajar mengaji kepada Mualim Sufian. Setelah beberapa lama, mereka belajar pula ilmu kesaktian dari guru mereka. Sang ayah mulai bimbang untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannya memerintah kerajaan. Kembimbangan itu karena kedua putranya sama-sama pandai dan berakhlak baik. Pada suatu malam, sang Baginda Raja bermimpi tentang buluh perindu. Sang Raja sangat terpesona dengan buluh tersebut yang memiliki suara sangat merdu. Keesokan harinya, Baginda Raja menceritakan mimpinya tersebut pada kedua anaknya. Ia pun membuat sebuah sayembara untuk kedua putranya, barangsiapa yang bisa mendapat buluh perindu, dialah yang akan menggantikan dirinya untuk menjadi raja. Kedua putranya itu kemudian memohon kepada Baginda Raja untuk memulai pengembaraan mencari buluh perindu yang diinginkan ayahnya. Dalam perjalanan mereka selalu bersama hingga suatu saat karena angin topan, hujan lebat, dan awan gelap gulita mereka jadi terpisah. Syah Peri berjalan dan terus berjalan hingga ia menemukan suatu taman dan sebuah mahligai. Dalam mahligai itu, Syah Peri menemukan sebuah gendang. Dipukulinya gendang tersebut keras-keras. Pada saat dia sedang memukul gendang itu didengarnya suara lain yang berasal dari dalam gendang. Syah Peri lalu merobek gendang tersebut dengan pisaunya. Betapa kagetnya Syah Peri karena dia mendapati seorang Putri dan dayang-dayang nya sedang bersembunyi di dalam gendang. Setelah dikeluarkan dari dalam gendang, Sang Putri bercerita bahwa dia disembunyikan di dalam gendang oleh ayahnya untuk menghindari serangan raksasa Garuda yang telah meluluh-lantahkan kerajaan mereka. Tak lama kemudian raksasa Garuda datang hendak membunuh sang Putri. Syah Peri segera menyelamatkan Sang Putri dan bertarung melawan raksasa Garuda. Raksasa Garuda itupun dapat dikalahkannya. Syah Peri selanjutnya menikahi Putri Ratna Sari dengan disaksikan oleh dayang-dayang Sang Putri. Di lain tempat, Indera Bangsawan menemukan suatu padang yang tidak cukup luas. Di dalam padang itu terdapat sebuah gua yang dihuni oleh raksasa perempuan. Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa perempuan itu. Dijadikannya raksasa perempuan itu sebagai neneknya. Selama mereka bersama, raksasa tersebut banyak memberikan pengalaman baiknya, memberikan ilmu-ilmu, memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata berupa sarung kesaktian untuk melawan Buraksa. Raksasa tersebut bercerita bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri antah berantah yang diperintah oleh Raja Kabir, sebuah kerajaan yang akan dihancurkan oleh Buraksa. Raksasa meminta Indera Bangsawan untuk membantu kerajaan tersebut. Raja Kabir akan menyerahkan putrinya, Putri Kemala Sari kepada Buraksa sebagai upeti agar kerajaan itu tidak di hancurkan oleh Buraksa. Setelah Indera Bangsawan berhasil masuk di wilayah kerajaan dengan menyamar sebagai budak berambut keriting. “Barangsiapa yang bisa membunuh Buraksa dan membawa mata dan hidungnya yang berjumlah tujuh, maka dia akan dinikahkan denga Puteri Kemala Sari” kata Raja Kabir. Indera Bangsawan segera bergegas untuk mengejar dan mencari Buraksa tersebut. Dengan kepandainnya, Indera Bangsawan berhasil menemukan Buraksa lebih dulu dari yang lain, dan akhirnya ia dapat mengalahkan Buraksa. Indera Bangsawan juga memotong mata dan hidung Buraksa yang berjumlah tujuh itu untuk dipersembahkan kepada Raja Kabir. Sampai di istana Indera Bangsawan segera menghadap Raja Kabir. Raja Kabir bahagia karena ada orang yang dapat menyelamatkan putrinya. Pada saat itu juga Putri Kemla Sari segera dinikahkan dengan Indera Bangsawan. Indera Bangsawan sudah mendapatkan buluh perindu yang diinginkan ayahnya, maka ia mengajak istrinya untuk kembali ke kerajaan Kobat Syahrial untuk menghadap ayahnya. Ternyata Indera Bangsawan mendadak jatuh sakit. Di tempat berbeda Syah Peri beberapa hari tidak dapat tidur dengan nyenyak dan selalu memimpikan adiknya, Indera Bangsawan. Dalam mimpinya, Indera Bangsawan sedang sakit keras dan membutuhkan pertolongannya. Maka berangkatlah ia mencari Indera Bangsawan. Setelah berhari-hari mencari, sampailah Syah Peri di kerajaan antah-berantah itu. Ia menemukan Indera Bangsawan sedang tergeletak sakit tak berdaya dengan ditemani istrinya. Syah Peri lalu berusaha untuk menyembuhkan Indera Bangsawan. Selang beberapa hari, Indera Bangsawan berangsur-angsur sembuh. Syah Peri dan istrinya lantas mengajak Indera Bangsawan dan istrinya untuk kembali ke kerajaan Kobat Syahrial. Baginda raja Indera Bungsu sangat bahagia melihat kepulangan kedua putranya yang didampingi juga oleh istrinya. Indera Bangsawan langsung menyerahkan buluh perindu kepada sang ayah. Sang ayah bertambah bahagia dan langsung mengangkat Indera Bangsawan menjadi raja untuk menggantikannya menjadi raja Kobat Syahrial. Untuk membalas kebaikan hati kakaknya, Indera Bangsawan memberi Syah Peri sebuah batu hikmat. Batu hikmat tersebut dapat dimanfaatkan Syah Peri untuk dijadikan sebuah kerajaan lengkap dengan abdi kerajaan, rakyat, dan perlengkapan kerajaan. Akhirnya, kedua kerajaan itu berkembang bersama saling bahu-membahu untuk menciptakan kerukunan, kemakmuran, dan perdamaian. Unsur Intrinsik Hikayat Indera Bangsawan Identifikasi insur intrinsik hikayat indera bangsawan yang akan dibahas terdiri dari tema hikayat indera bangsawan, alur cerita hikayat indera bangsawan, tokoh-tokoh dalam hikayat indera bangsawan, penokohan tokoh hikayat indera bangsawan, latar cerita hikayat indera bangsawan berupa latar tempat, waktu dan suasana hikayat indera bangsawan, sudut pandang pengarang hikayat indera bangsawan, gaya bahasa hikayat indera bangsawan dan amanat hikayat indera bangsawan. Berikut uraian analisis unsur intrinsik hikayat indera bangsawan. 1. Tema Hikayat Indera Bangsawan Tema hikayat indera bangsawan adalah usaha kerja keras dan perjuangan dua putra raja dalam membuktikan kepantasannya meneruskan takhta raja. 2. Tokoh Hikayat Indera Bangsawan Berdasarkan jenis peran yang dimilikinya, Tokoh dalam hikayat indera bangsawan dibedakan menjadi tokoh antagonis, protagonis dan tokoh tritagonis. Berikut bahasan tokoh dalam hikayat indera bangsawan. a. Tokoh Protagonis Tokoh protagonis dalam hikayat indera bangsawan antara lain Raja Indera Bungsu, Putri Sitti Kendi, Syah Peri, Indera Bangsawan, Mualin Sufian, Raksasa Perempuan, Putri Ratna Sari, Putri Kemala Sari. Antagonis Tokoh Antagonis dalam hikayat indera bangsawan adalah Raksasa Garuda. c. Tokoh Tritagonis Tokoh tritagonis dalam hikayat indera bangsawan adalah Raja Kabir. 3. Penokohan Tokoh Hikayat Indera Bangsawan a. Raja Indera Bungsu Watak Raja Indera Bungsu dalam hikayat indera bangsawan yaitu - Sabar dalam menghadapi ujian dan selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra. - Dermawan, suka tolong menolong, dan perhatian terhadap rakyatnya karena sering membagikan sedekah kepada fakir miskin. - Penyayang dan perhatian terhadap kedua putranya - Mendidik kedua putranya dengan baik sehingga tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik. b. Putri Sitti Kendi Watak putri sitti kendi dalam hikayat indera bansawan adalah - Sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian. - Selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra. - Sayang dan perhatian terhadap kedua putranya. - Mendidik kedua putranya dengan baik sehingga tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik. c. Syah Peri Watak syah peri dalam hikayat indera bangsawan yaitu - Patuh kepada kedua orang tuanya. - Amanah dalam melaksanakan perintah Baginda Raja Indera Bungsu untuk mencari buluh perindu. - Perhatian dan pantang menyerah. - Selalu peduli dengan keadaan saudara kembarnya. - Pemberani dan berhasil mengalahkan raksasa Garuda untuk menyelamatkan Putri Ratna Sari dan dayang-dayang. - Baik hati dalam menolong menyelamatkan Putri Ratna Sari dari serangan raksasa Garuda dan berusaha menyembuhkan Indera Bangsawan. d. Indera Bangsawan Watak tokoh indera bangsawan dalam kutipan hikayat indera bangsawan adalah sebagai berikut - Patuh kepada kedua orang tua. - Amanah dalam melaksanakan perintah Baginda Raja untuk mencari buluh perindu. - Pantang menyerah sehingga dia berhasil mendapatkan buluh perindu dan berusaha melawan raksasa Buraksa. - Pemberani dan suka menolong sehingga dia berhasil mengalahkan raksasa Buraksa untuk menyelamatkan Putri Kemala Sari, dan rakyat Raja Kabir. - Menghargai usaha orang lain dengan memberikan Batu Khitmat kepada Syah Peri untuk membalas kebaikan Syah Peri yang telah menyelamatkan nyawanya e. Mualin Sufian Watak mualim sufian dalam hikayat indera bangsawan adalah sebagai berikut - Baik hati karena mau mengajarkan berbagai ilmu yang dia miliki kepada kedua putra Baginda Raja Indera Bungsu. f. Raksasa Garuda Watak raksasa garuda dalam hikayat indera bansgawan adalah sebagai berikut - Jahat karena menyerang negara Putri Ratna Sari. g. Putri Ratna Sari Watak Putri Ratna Sari dalam hikayat indera bangsawan adalah sebagai berikut - Baik hati karena mau menolong dayang-dayangnya dari serangan raksasa Garuda dengan bersembunyi di dalam gendang. h. Putri Kemala Sari Watak putri kemala sari dalam hikayat indera bangsawan yaitu - Patuh kepada kedua orang tua karena mau dijadikan upeti oleh ayahnya yang bernama Raja Kabir. i. Raksasa Perempuan Watak raksasa perempuan dalam hikayat indera bangsawan yaitu - Suka menolong karena banyak membagikan pengalaman hidupnya, memberikan ilmu-ilmu, memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata berupa sarung kesaktian untuk melawan Buraksa kepada Indera Bangsawan. j. Raksasa Buraksa Watak Raksasa Buraksa dalam hikayat indera bangsawan adalah jahat karena meluluh lantakkan negara yang dimpin Raja Kabir. k. Raja Kabir Watak Raja Kabir adalah Mudah menyerah hal ini terlihat saat kerajaannya takluk kepada raksasa dan raja kabir akan menyerahkan putrinya sebagai upeti kepada raksasa Buraksa. 4. Lattar setting Hikayat Indera Bangsawan Latar cerita hikayat indera bansgawan terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar suasana. Berikut uaraiannya a. Lattar Tempat Negeri Kobat Syarial kerajaan yang dipimpin Baginda Raja Indera Bugsu. Di hutan Syah Peri dan Indera Bungsu pergi ke hutan utnuk mencari buluh perindu. Disebuah taman Syah Peri bertemu dan menyelamatkan Putri Ratna Sari dan dayang- dayangnya dari serangan raksasa Garuda. Di gua Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa perempuan di gua kemudian dijadikannya sebagai neneknya Negeri antah berantah negeri yang dipimpin Raja Kabir yang pada saat itu tengah diserang raksasa Buraksa. b. Lattar waktu Peristiwa dalam kutipan hikayat terjadi pada keseluruhan waktu pagi, siang, sore, dan malam. c. Lattar suasana Suasana Bahagia Syah Peri dan Putri Ratna Sari beserta dayng- dayangnya selamat dari serangan raksasa Garuda yang telah dikalahkan Syah Peri; Idera Bangsawan dapat mengalahkan raksasa Buraksa dan hidup bahagia bersama Putri Kemala Sari; Indera Bangsawan berhasil mendapatkan buluh perindu yang diinginkan ayahnya, dan kembali ke negeri Kobat Sayhrial dengan selamat; Indera Bangsawan dinobatkan menjadi raja Kobat Syahrial menggantikan ayahnya; dan Syah Peri dengan kerajaanya. Suasana Sedih Di tengah perjalanan dalam mencari buluh perindu Syah Peri dan Indera Bangsawan terpisah karena angin topan, hujan lebat dan awan yang gelap gulita. Pada saat itu Putri Ratna Sari diserang raksasa Garuda, dan negara Raja Kabir diserang raksasa Buraksa; Indera Bangsawan tiba- tiba jatuh sakit. 5. Sudut Pandang Hikayat Indera Bangsawan Sudut pandang pengarang hikayat indera bangsawan adalah Orang ketiga serba tahu. Hal ini terlihat dari banyaknya penggunanaan kata ganti orang ketiga seperti "dia" dan "itu" 6. Alur Hikayat Indera Bangsawan Alur pada hikayat tersebut adalah alur maju. Alasannya karena hikayat menceritakan awal raja Indera Bungsu yang tidak memiliki anak, Indra Bangsawan diasuh oleh raksasa dan dianggap sebagai neneknya sampai akhirnya Indra Bangsawan menyamar menjadi budak berambut keriting sebagai Si Hutan masuk di kerajaan antah berantah. Dengan kepandaian yang dimiliki Indra Bangsawan, Buraksa dapat dikalahkan. Pada akhirnya indra Bangsawan dihadiahi oleh Raja Kabir utuk menjadi suami Putri Kemala Sari. 7. Amanat Hikayat Indera Bangsawan Beberapa pesan moral yang bisa diambil dari cerita hikayat indera bangsawan yaitu a. Hendaklah kita selalu mengingat Allah SWT. b. Hendaklah kita saling tolong-menolong. c. Hendaklah kita tidak mudah menyerah. d. Hendaklah kita selalu bersikap sportif dan jujur. 8. Gaya bahasa Hikayat Indera Bangsawan Gaya bahasa yang digunakan dalam hikayat indra bangsawan adalah Majas metafora. Bukti majas metafoa hikayat indera bangsawan yaitu pada kutipan "Tuan puteri terharu akan kesetiaannya dan menamainya si Kembar". Unsur Ekstrinsik Hikayat Indera Bangsawan Unsur ekstrinisk hikayat indera bangsawan merupakan nilai-nilai hikayat indera bangsawan yang bersumber dari luar cerita hikayat indera bangsawan dan memiliki pengaruh terhadap gambaran maupun alur cerita hikayat indera bangsawan. Beberapa nilai-nilai hikayat indera bangsawan adalah nilai religius, nilai sosial, nilai moral, nilai budaya dan nilai pendidikan. 1. Nilai Religius Hikayat Indera Bangsawan Beberapa nilai religius dalam hikayat indera bangsawan terlihat dari kegiatan melakukan pembacaan doa qunut, membagikan sedekah kepada fakir miskin, dan berpasrah kepada Allah. 2. Nilai Sosial Hikayat Indera Bangsawan Nilai sosial dalam hikayat indera bangsawan yang dapat diamati yaitu ajaran sikap saling tolong-menolong antar sesama manusia. 3. Nilai Moral Hikayat Indera Bangsawan Beberapa nilai moral yang berusaha ditampilkan dalam hikayat indera bangsawan yaitu sikap tidak mudah menyerah, selalu berusaha, bersikap sportif, jujur dan menghargai usaha orang lain. 4. Nilai Budaya Hikayat Indera Bangsawan Unsur nilai budaya yang bisa dilihat dalam hikayat indera bangsawan adalah budaya perjodohan dan adanya budaya atau masyarakat yang mempercayai kesaktian suatu benda. Selain itu, juga terdapat pengaruh budaya kerajaan dimana dalam menentukan penerus takhta kerajaan harus merupakan pewaris yang memiliki hubungan darah dan harus mempunyai kemampuan yang luar biasa 5. Nilai Pendidikan Hikayat Indera Bangsawan Nilai Pendidikan dalam hikayat indera bansgawan yang dapat diamati berupa cara mendidik anak secara baik yang dilakukan oleh raja indera bungsu dengan mengajarkan kedua anaknya untuk menimba ilmu secara mendalam baik dalam ilmu agama maupun beladiri.
Judul Hikayat Indera Bangsawan Penulis NN Sumber Buku Kesusastraan Melayu Klasik HIKAYAT INDERA BANGSAWAN Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa kunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan. Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri. Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup. Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling carimencari. Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuatkuatnya. Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Sembilan orang anak raja sudah berada di dalam negeri itu. Akhirnya raksasa itu mencanangkan supaya Indera Bangsawan pergi menolong Raja Kabir. Diberikannya juga suatu permainan yang disebut sarung kesaktian dan satu isyarat kepada Indera Bangsawan seperti kanak-kanak dan ilmu isyarat itu boleh membawanya ke tempat jauh dalam waktu yang singkat. Dengan mengenakan isyarat yang diberikan raksasa itu, sampailah Indera Bangsawan di negeri Antah Berantah. Ia menjadikan dirinya budak-budak berambut keriting. Raja Kabir sangat tertarik kepadanya dan mengambilnya sebagai permainan Puteri Kemala Sari. Puteri Kemala Sari juga sangat suka cita melihatnya dan menamainya si Hutan. Maka si Hutan pun disuruh Puteri Kemala Sari memelihara kambingnya yang dua ekor itu, seekor jantan dan seekor betina. Pada suatu hari, Puteri Kemala Sari bercerita tentang nasib saudara sepupunya Puteri Ratna Sari yang negerinya sudah dirusakkan oleh Garuda. Diceritakannya juga bahwa Syah Peri lah yang akan membunuh garuda itu. Adapun Syah Peri itu ada adik kembar, Indera Bangsawan namanya. Ialah yang akan membunuh Buraksa itu. Tetapi bilakah gerangan Indera Bangsawan baru akan datang? Puteri Kemala Sari sedih sekali. Si Hutan mencoba menghiburnya dengan menyanyikan pertunjukan yang manis. Maka Puteri Kemala Sari pun tertawalah dan si Hutan juga makin disayangi oleh tuan puteri. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. "Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri." Setelah mendengar kata-kata baginda Si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa neneknya dan menunjukkannya kepada raja. Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata tuan puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka tuan puteri pun sembuhlah. Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda menyuruh orang berbuat mahligai di tengah padang akan tempat duduk tuan puteri. Di bawah mahligai itu ditaruh satu bejana berisi air, supaya Buraksa boleh datang meminumnya. Di sanalah anak raja yang sembilan orang itu boleh berebut tuan puteri. Barang siapa yang membunuh Buraksa itu, yaitu mendapat hidungnya yang tujuh dan matanya yang tujuh, dialah yang akan menjadi suami tuan puteri. Maka tuan puteri pun ditinggalkan baginda di mahligai di tengah padang itu. Si Hutan juga menyusul datang. Tuan puteri terharu akan kesetiaannya dan menamainya si Kembar. Hatta si Kembar pun bermohon kepada tuan puteri dan kembali mendapatkan raksasa neneknya. Raksasa neneknya memberikan seekor kuda hijau dan mengajarnya cara-cara membunuh Buraksa. Setelah itu, si Kembar pun menaiki kuda hijaunya dan menghampiri mahligai tuan puteri. Katanya kepada tuan puteri bahwa dia adalah seorang penghuni hutan rimba yang tiada bernama. Tujuan kedatangannya ialah hendak melihat tamasya anak raja yang sembilan itu membunuh Buraksa. Tuan puteri menyilakan naik ke mahligai itu. Setelah menahan jerat pada mulut bejana itu dan mengikat hujung tali pada leher kudanya serta memesan kudanya menarik jerat itu bila Buraksa itu datang meminum air, si Kembar pun naik ke mahligai tuan puteri. Hatta Buraksa itu pun datanglah dengan gemuruh bunyinya. Tuan puteri ketakutan dan si Kembar memangkunya. Tersebut pula perkataan Buraksa itu. Apabila dilihatnya ada air di dalam mulut bejana itu, maka ia pun minumlah serta dimasukannya kepalanya ke dalam mulut bejana tempat jerat tertahan itu. Maka kuda hijau si Kembar pun menarik tali jerat itu dan Buraksa pun terjeratlah. Si Kembar segera datang memarangnya hingga mati serta menghiris hidungnya yang tujuh dan matanya yang tujuh itu. Setelah itu si Kembar pun mengucapkan "selamat tinggal" kepada tuan puteri dan gaib dari padang itu. Tuan puteri ternganga-nganga seraya berpikir bahwa orang muda itu pasti adalah Indera Bangsawan. Hatta para anak raja pun datanglah. Dilihatnya bahwa Buraksa itu sudah mati, tetapi mata dan hidungnya tiada lagi. Maka mereka pun mengerat telinga, kulit kepala, jari, tangan dan kaki Buraksa itu untuk dibawa kepada baginda. Baginda tidak percaya mereka sudah membunuh Buraksa itu, karena tanda-tanda yang dibawa mereka itu bukan alamatnya. Selang berapa lama, si Kembar pun datang dengan membawa mata dan hidung Buraksa itu dan diberikan tuan puteri sebagai isteri. Si Kembar menolak dengan mengatakan bahwa dia adalah hamba yang hina. Tetapi, tuan puteri menerimanya dengan senang hati. Unsur Intrinsik Hikayat Indera Bangsawan 1 Tema Kegigihan seorang Indera Bangsawan. Alasan karena menceritakan usahanya untuk mendapatkan buluh perindu. 2 Latar a Tempat v Negeri Kobat Syahrial Bukti Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. v Hutan Bukti … masuk hutan keluar hutan … v Gunung Bukti … naik gunung turun gunung … v Rimba Bukti … masuk rimba keluar rimba … v Jalan Bukti Beberapa lama di jalan … v Taman Bukti … sampailah ia kepada suatu taman … v Mahligai Bukti Ia naik ke atas mahligai … v Padang Bukti Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. v Gua Bukti Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu … v Negeri Antah Berantah Bukti … menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah … v Tengah padang Bukti Baginda menyuruh orang berbuat mahligai di tengah padang … b Waktu Tujuh tahun kemudian Bukti Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun … c Suasana § Sedih Bukti - Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. - Puteri Kemala Sari sedih sekali. § Senang Bukti - Maka baginda pun terlalu amat sukacita … - Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri … - Maka Puteri Kemala Sari pun tertawalah … § Bimbang Bukti Maka baginda pun bimbanglah … § Mengerikan Bukti Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. § Ketakutan Bukti Tuan puteri ketakutan … § Mengharukan Bukti Tuan puteri terharu akan kesetiaannya … 3 Alur Maju Alasan karena cerita disusun dari peristiwa awal yang menceritakan kesedihan Indera Bungsu tidak mempunyai putra. Lalu mempunyai dua orang putra yang gagah. Diikuti peristiwa-peristiwa berikutnya yang menceritakan kedua anak baginda mencari buluh perindu. Kemudian diakhiri dengan penyelesaian yang menceritakan kedua anak baginda mendapatkan kebahagiaan. 4 Konflik a Konflik batin Ø Baginda bimbang memilih putranya yang pantas menjadi raja Bukti Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. b Konflik fisik Ø Syah Peri membunuh Garuda Bukti Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. 5 Penokohan Indera Bungsu - Dermawan Bukti … ia pun menyuruh orang membaca doa kunut dan sedekah kepada fakir miskin. - Taat beragama Bukti Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tuhuj tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Tuan Puteri Sitti Kendi Syah Peri - Patuh Bukti Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. - Tawakal Bukti Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan sekuatkuatnya. - Suka menolong Bukti Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Indera Bangsawan - Patuh Bukti Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. - Baik hati Bukti Si Hutan mencoba menghiburnya dengan menyanyikan pertunjukan yang manis. - Setia Bukti Tuan puteri terharu akan kesetiaannya dan menamainya si Kembar. Mualim Sufian Puteri Ratna Sari Dayang-dayang Garuda Inang pengasuh Raksasa - Peduli Bukti Akhirnya raksasa itu mencanangkan supaya Indera Bangsawan pergi menolong Raja Kabir. - Baik hati Bukti Sementara itu Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa neneknya … Raja Kabir Buraksa Puteri Kemala Sari - Rendah hati Bukti Tetapi, tuan puteri menerimanya dengan senang hati. Para ahli nujum Sembilan orang anak raja - Patuh Bukti Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Tabib - Suka menolong Bukti Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka tuan puteri pun sembuhlah. 6 Sudut pandang Orang ketiga serba tahu paranomik Alasan karena pengarang berusaha menceritakan semua aspek dari suatu cerita. 7 Amanat Kita harus bersabar dalam menghadapi cobaan Kita hanya boleh menyembah Allah SWT Kita harus mulai menuntut ilmu sejak kecil Kita harus patuh terhadap perintah orang tua Kita harus bertawakal kepada Allah SWT Sesama manusia, kita harus saling tolong menolong
unsur intrinsik dalam hikayat indera bangsawan